Berkali-kali Dilaporkan ke Polisi, Aksi Pelemparan Gereja dan Rumah Warga di Palopo Masih Berlanjut, Warga Akhirnya Mengadu ke Anggota DPR RI
PALOPO – Peristiwa pelemparan batu yang menyasar rumah warga dan tempat ibadah di kawasan Lappo, Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, hingga saat ini masih belum terungkap. Meski sudah beberapa kali dilaporkan kepada pihak kepolisian, aksi tersebut dikabarkan tetap berlangsung dan membuat masyarakat setempat merasa tidak aman.
Karena menilai penanganan kasus tersebut belum memberikan kepastian, sejumlah warga kemudian menyampaikan keluhan mereka kepada Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (Purn) Drs. Frederik Kalalembang. Mantan Direktur Polairud Polda Sulsel yang kemudian bertugas di Jawa Timur itu diharapkan dapat membantu mendorong perhatian yang lebih serius terhadap kasus yang terus berulang tersebut agar pelakunya segera teridentifikasi dan ditangkap.
Salah seorang warga, Pendrik, mengungkapkan bahwa para tokoh masyarakat telah berulang kali menyampaikan laporan kepada aparat penegak hukum. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada tindakan yang dianggap mampu menghentikan kejadian tersebut. Bahkan, belum ada satu pun pelaku yang berhasil diamankan.
“Kami merasa heran karena laporan sudah berkali-kali disampaikan, tetapi peristiwa serupa masih terus terjadi. Yang diinginkan warga hanya ketenangan dan rasa aman di lingkungan tempat tinggal mereka,” kata Pendrik.
Barang bukti anak panah ditemukan di sekitar areal gereja yang diduga dilepaskan pelaku pelemparan dan penyerangan
Pendrik juga menjelaskan bahwa sasaran pelemparan bukan hanya rumah-rumah warga, melainkan juga Gereja Toraja Jemaat Lappo yang berada di Kelurahan Lebang. Akibat kejadian itu, bagian atap dan kaca gereja dilaporkan mengalami kerusakan. Insiden tersebut disebut telah berulang kali terjadi dalam beberapa waktu terakhir sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Selain itu, warga juga pernah menemukan barang bukti berupa bom molotov di lokasi kejadian.
Warga mengaku mempertanyakan efektivitas penanganan aparat karena meskipun laporan telah disampaikan, aksi pelemparan masih terus berlangsung. Dalam beberapa kejadian terakhir, pelaku bahkan diduga semakin nekat dengan menjalankan aksinya pada malam hari hingga menjelang waktu subuh.
Warga Meminta Bantuan Frederik Kalalembang
Menanggapi keluhan yang disampaikan masyarakat, Frederik Kalalembang segera menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh gereja di wilayah tersebut. Ia menilai persoalan itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat mengganggu rasa aman warga, memunculkan berbagai spekulasi, serta berpotensi memicu isu SARA apabila tidak segera ditangani secara serius.
“Saya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan jangan terpancing hal-hal yang dapat memperkeruh keadaan. Masyarakat merasa persoalan ini belum tuntas, sehingga akhirnya menyampaikan langsung kepada saya. Yang mereka inginkan sederhana, yaitu rasa aman dan kepastian hukum. Pelaku harus segera ditemukan sehingga masyarakat tidak terus-menerus hidup dalam ketakutan,” ujar Frederik.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Frederik Kalalembang menyarankan tokoh masyarakat untuk menggelar rapat bersama guna membahas persoalan tersebut. Saran itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan yang dihadiri Pengurus Klasis Gereja Kota Palopo pada Senin, 1 Juni 2026. Pertemuan tersebut juga dihadiri para pengurus gereja dan tokoh masyarakat guna mencari langkah terbaik agar situasi tetap kondusif.
Dalam pertemuan itu, seluruh pihak sepakat untuk mengadukan persoalan tersebut kepada Kapolres Palopo dan tetap mengedepankan jalur hukum serta menjaga suasana tetap tenang. Pengurus gereja juga berkomitmen terus berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat agar kasus tersebut dapat segera dituntaskan.
Jangan Sampai Ada yang Menunggangi
Frederik Kalalembang menambahkan bahwa kasus kriminal tersebut tidak boleh berkembang menjadi isu yang dapat mengganggu kerukunan masyarakat. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan aparat keamanan bekerja cepat untuk mengungkap serta menangkap pelaku sehingga tidak muncul berbagai spekulasi yang dapat memperkeruh keadaan.
“Saya meminta kasus ini ditangani secara serius. Jangan sampai karena penanganannya lambat, muncul pihak-pihak yang mencoba menunggangi atau memanfaatkan situasi. Palopo adalah kota yang selama ini hidup rukun dalam keberagaman. Jangan biarkan ulah segelintir orang merusak persaudaraan yang sudah terbangun dengan baik selama ini,” tegas mantan perwira tinggi Polri tersebut.
Frederik menambahkan, langkah cepat aparat sangat diperlukan untuk mengembalikan rasa aman masyarakat. Ia berharap pengungkapan kasus dapat segera dilakukan agar warga tidak lagi dihantui ketakutan dan seluruh aktivitas masyarakat maupun kegiatan ibadah dapat berlangsung dengan aman dan damai.
Sementara itu, Pendeta Sardelyn yang dikonfirmasi mengaku aksi pelemparan masih terus terjadi hingga Senin, 1 Juni 2026 sore. Bahkan, pelemparan juga disertai dengan penggunaan kembang api yang terlihat beberapa kali.
“Kami butuh ketenangan. Jangan sampai hal ini terus terjadi dan membuat kami ketakutan karena dampaknya merusak rumah ibadah,” terangnya.Tanggapan Polres Palopo
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Palopo, IPTU Ridwan Parintak, mengatakan kejadian di Lappo, Kelurahan Lebang, murni merupakan perkelahian antar kelompok pemuda yang menyebabkan beberapa rumah terkena lemparan, termasuk rumah ibadah (gereja).
Ia menampik bahwa kejadian tersebut merupakan teror terhadap rumah ibadah. Menurutnya, peristiwa itu adalah aksi saling lempar antar kelompok pemuda sehingga rumah ibadah maupun rumah warga ikut terdampak.
“Kami dari Unit Reskrim Polres Palopo masih melakukan penyelidikan terkait para pelaku pengrusakan,” kata Ridwan Parintak.
Ia juga berpesan kepada setiap pihak yang merasa dirugikan maupun yang mengetahui para pelaku pengrusakan agar ikut mengambil peran dalam proses penyelidikan yang saat ini sedang