Lonjakan PHK Singapura Capai Level Tertinggi Sejak 2020, Sektor Global Paling Terdampak
SINGAPURA, SULSEL.TODAY — Pusat keuangan Asia, Singapura, tengah menghadapi tantangan ketenagakerjaan menyusul lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mencatatkan rekor tertinggi sejak masa pandemi COVID-19. Gelombang PHK ini utamanya melanda sektor-sektor yang berorientasi ke luar negeri dan sangat bergantung pada dinamika pasar internasional.
Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja Singapura yang dikutip dari Reuters, jumlah PHK pada kuartal III-2026 tercatat mencapai 4.800 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kuartal II-2026 yang mencatatkan 4.620 orang korban PHK. Lonjakan ini menjadikan tingkat PHK periode tersebut sebagai yang tertinggi sejak kuartal IV-2020, di mana jumlah korban PHK saat itu mencapai 5.640 orang.
Kendati demikian, tingkat pengangguran keseluruhan di Singapura tercatat masih stabil di angka 2% pada September 2026. Namun, tekanan mulai dirasakan oleh penduduk lokal dan warga negara Singapura, di mana tingkat pengangguran masing-masing naik tipis menjadi 3% dan 3,1% pada September 2026, dari sebelumnya masing-masing 2,9% dan 3% pada Agustus 2026.
Pemerintah Singapura juga mencatat proporsi perusahaan yang merencanakan PHK dalam tiga bulan ke depan mencapai 3,1%, meningkat tipis dari 2,8% pada bulan sebelumnya. Pihak kementerian menilai bahwa meskipun pasar tenaga kerja terus berkembang, tingginya angka PHK serta peningkatan rencana perusahaan untuk merampingkan karyawan menunjukkan adanya kelemahan yang mulai muncul di beberapa bagian pasar tenaga kerja yang perlu dipantau secara saksama.
Di sisi lain, di tengah bayang-bayang gelombang PHK tersebut, total penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan justru menunjukkan pertumbuhan sebanyak 27.700 orang pada kuartal III-2026. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja pada kuartal II-2026 yang sebesar 11.400 orang, maupun kuartal yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan 25.100 orang.