Lindungi Anak dari Asap Karhutla, IDAI Dorong Sekolah Terapkan Enam Langkah Mitigasi

Ilustrasi dampak asap karhutla.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong penerapan konsep Sekolah Aman Asap guna melindungi anak-anak dari paparan polusi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya pencegahan ini mencakup enam langkah strategis, mulai dari pengaturan ventilasi hingga pemanfaatan teknologi sederhana di lingkungan sekolah.

Rekomendasi tersebut berlandaskan pada Surat Edaran Nomor 90623/MPK/LL/2015 tentang Penanganan Pendidikan pada Daerah Terdampak Bencana Asap. Adapun enam langkah mitigasi yang didorong IDAI meliputi pemasangan kipas angin sirkulasi, penggunaan lapisan dakron pada ventilasi, pemasangan tirai kain basah, penyediaan akuarium, penanaman tanaman penyerap karbon dioksida ($CO_2$), serta penggunaan exhaust fan yang dipasang berlawanan arah dengan datangnya polutan. Beberapa jenis tanaman yang direkomendasikan antara lain lidah mertua, lili paris, sirih gading, dan suplir.

Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, Dr. Dimas Dwi Saputro, SpA, Subsp Respi(K), menegaskan bahwa pihak sekolah harus memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam mengenali tanda bahaya serta menyusun rencana evakuasi yang matang. 

“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga garda terdepan perlindungan anak. Guru dan tenaga kependidikan harus mampu mengenali tanda bahaya, memiliki rencana evakuasi, dan memastikan tidak ada anak yang terpapar asap tanpa perlindungan,” ujar Dr. Dimas, Senin (19/10/2026).

Selain di lingkungan sekolah, IDAI juga meminta para orang tua untuk memperketat mitigasi di tingkat keluarga. Langkah yang dapat dilakukan meliputi pengurangan aktivitas luar ruangan, menutup rapat pintu dan jendela untuk menciptakan ruang berudara bersih, hingga menyiapkan tas siaga bencana.

Pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) juga menjadi acuan utama dalam menentukan tindakan perlindungan berdasarkan kelompok usia rentan, mulai dari neonatus hingga remaja. Pada kondisi ISPU tidak sehat hingga sangat tidak sehat (101–299), kelompok rentan seperti bayi dan balita dengan penyakit dasar direkomendasikan untuk segera dievakuasi ke tempat aman berudara bersih. Sementara itu, evakuasi berlaku bagi seluruh anak jika kategori udara sudah mencapai level berbahaya atau di atas 300.

Orang tua diimbau agar tidak ragu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak menunjukkan gejala darurat, seperti sesak napas berat, tarikan dinding dada ke dalam, bibir membiru, penurunan kesadaran, hingga kesulitan minum.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar