Pakar Ungkap Hubungan Otak dan Usus dalam Membentuk Kecerdasan Emosional Anak
Perkembangan kecerdasan anak tidak hanya diukur dari kemampuan akademis atau nilai tinggi di sekolah. Kemampuan sosial dan emosional, seperti mengenali perasaan, mengelola emosi, berkomunikasi, berempati, hingga beradaptasi, merupakan fondasi krusial yang perlu dibentuk sejak masa awal kehidupan.
Psikolog Ratih Ibrahim, M.M., menjelaskan bahwa dalam masa emas (golden period), terdapat dua fase penting yang perlu dipahami orang tua, yaitu critical period dan sensitive period. Critical period merupakan fase spesifik ketika stimulasi atau input tertentu dibutuhkan agar fungsi jaringan otak berkembang optimal. Sementara itu, sensitive period adalah masa ketika otak dan perilaku anak menjadi sangat responsif terhadap pengalaman tertentu.
Ratih menegaskan bahwa potensi dan kemampuan anak tidak lantas berhenti berkembang setelah melewati 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Usia 2 hingga 5 tahun tetap menjadi fase penting tempat kemampuan bahasa, interaksi sosial, regulasi emosi, fungsi eksekutif, serta kemandirian anak terus bertumbuh.
Untuk mendukung pertumbuhan ini, stimulasi tidak harus rumit. Orang tua dapat memberikan stimulasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajak anak berbincang tentang perasaannya, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh pengelolaan emosi, bermain dan membaca buku bersama, hingga mendiskusikan perasaan tokoh dalam cerita. Anak belajar terutama melalui hubungan, pengamatan, dan contoh perilaku dari orang dewasa di sekitarnya.
Selain stimulasi dan pengasuhan responsif, pemenuhan nutrisi seimbang serta kesehatan pencernaan memegang peranan penting. Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyampaikan bahwa tumbuh kembang anak perlu didukung secara menyeluruh melalui koneksi antara otak dan saluran cerna yang dikenal sebagai Gut-Brain Axis.
Dalam sistem Gut-Brain Axis, nutrisi berperan dalam mendukung fungsi otak yang berkaitan langsung dengan perilaku dan suasana hati anak. Perkembangan ini didukung oleh triliunan mikrobiota usus yang berkembang dan mengalami pematangan sejak awal kehidupan.
Untuk menjaga keseimbangan jumlah bakteri baik di dalam usus, anak memerlukan asupan prebiotik yang menjadi sumber makanan bagi mikrobiota tersebut. Prebiotik dapat diperoleh dari bahan makanan kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta umbi-umbian. Bagi anak di atas usia 1 tahun, kebutuhan nutrisi ini disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang dan pola makan harian demi menciptakan fondasi tumbuh kembang yang optimal.