Alat Mikroalga BRIN Ini Mampu Serap Karbon Setara 110 Pohon Mahoni
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Alam Semesta Integra mengembangkan teknologi penangkap karbon berbasis mikroalga bernama Olimpus Apollo 1.0. Perangkat berbasis fotobioreaktor ini hadir sebagai solusi dekarbonisasi untuk kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang terbuka hijau di tengah masifnya emisi kendaraan bermotor.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi penangkapan karbon dioksida (CO2) ini menjadi respons langsung terhadap tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor di perkotaan, khususnya Jakarta. Dalam inaugurasi Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae di Jakarta, ia mengungkapkan bahwa unit percontohan ini dijadwalkan dipasang di kawasan BRIN Gatot Subroto pada 2026 sebagai upaya memboyong hasil riset laboratorium agar bermanfaat langsung bagi lingkungan.
Secara teknis, Olimpus Apollo 1.0 mengoptimalkan mikroalga jenis Spirulina platensis untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis, memproduksi biomassa, sekaligus melepaskan oksigen ke udara. Pengembangannya telah dirintis BRIN sejak 2021 melalui prototipe FCB2022, yang mencakup penentuan strain mikroalga, formulasi medium pertumbuhan, hingga sistem pemantauan intensitas cahaya, pH, dan suhu secara real-time.
Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan, menerangkan bahwa perangkat ini dirancang modular sehingga fleksibel dipasang di jalan protokol, kawasan industri, pusat perbelanjaan, hotel, hingga perkantoran. Berdimensi panjang empat meter, lebar satu meter, dan tinggi tiga meter, alat ini hanya membutuhkan ruang sekitar 2,5 meter persegi. Sistemnya bekerja dengan menarik udara melalui empat sudut bawah perangkat sebelum masuk ke fotobioreaktor, disokong oleh sumber energi panel surya dan jaringan listrik PLN. Selain itu, 14 unit sensor berbasis Internet of Things (IoT) yang didukung konektivitas Telkomsel secara berkala mengukur kualitas gas dan air setiap lima detik.
Dari sisi efektivitas, Presiden Direktur PT TUV SÜD Indonesia, Yuan Bambang Handayana, menyampaikan bahwa berdasarkan verifikasi standar ISO 14064-2 pada 28 Juni 2026, satu unit perangkat ini diklaim mampu menyerap karbon setara dengan 110 pohon mahoni berusia lebih dari 15 tahun. Sebagai pembanding, jumlah pohon konvensional dengan kapasitas penyerapan setara membutuhkan lahan sekitar 5.000 hingga 10.000 meter persegi. Meski efisien dari segi ruang, teknologi ini diposisikan sebagai pembanding dan pendamping, bukan pengganti vegetasi alami yang tetap diperlukan untuk mengatur suhu udara dan menjaga ekosistem perkotaan.