Jadwal Olahraga di Tengah Cuaca Panas Bisa Diubah, Penelitian Temukan Strategi yang Lebih Efektif
JAKARTA — Penyesuaian jam pertandingan dapat membantu penyelenggara olahraga luar ruangan mengurangi paparan panas bagi atlet, menurut penelitian yang mengembangkan metode perencanaan turnamen berdasarkan pengukuran kondisi lingkungan.
Penelitian yang dipimpin Hiroki Yamaguchi dari Universitas Doshisha, Jepang, mengkaji bagaimana penyelenggara dapat menentukan jadwal pertandingan tenis dengan mempertimbangkan risiko panas sekaligus kebutuhan menyelesaikan seluruh pertandingan sesuai rencana.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 119.000 pengamatan suhu bola basah alami (wet-bulb globe temperature/WBGT) per jam yang dikumpulkan antara 2018 dan 2022 dari 11 stasiun meteorologi di Jepang.
WBGT merupakan indeks yang memperhitungkan suhu udara, kelembapan, dan radiasi matahari untuk membantu menilai tekanan panas pada tubuh. Dalam penelitian ini, jam dengan WBGT di bawah 28 derajat digunakan sebagai kategori waktu operasional berisiko lebih rendah berdasarkan pedoman pencegahan sengatan panas yang digunakan peneliti.
Peneliti kemudian mengembangkan kerangka untuk memperkirakan waktu bermain yang tersedia dan menilai apakah jadwal turnamen memungkinkan seluruh pertandingan selesai. Perhitungan juga mempertimbangkan durasi pertandingan, pergantian pemain, dan jumlah lapangan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan waktu bermain memiliki pengaruh lebih besar terhadap ketersediaan jam berisiko lebih rendah dibandingkan hanya mengubah tanggal penyelenggaraan. Model pertandingan malam meningkatkan peluang kondisi WBGT berada di bawah ambang yang digunakan sebesar 46%, sedangkan model pagi hari meningkat sebesar 36%.
Ketika perubahan tanggal dan jam bermain diterapkan secara bersamaan, penelitian memperkirakan tambahan waktu bermain berisiko lebih rendah dapat mencapai setara 0,8 hari selama periode turnamen tujuh hari.
Meski demikian, hasil tersebut berasal dari analisis data cuaca historis dan simulasi jadwal di Jepang, bukan uji lapangan yang membuktikan penurunan kasus sengatan panas pada atlet. Penerapan di wilayah lain perlu mempertimbangkan iklim setempat, fasilitas, dan karakteristik pertandingan.
Peneliti menilai metode tersebut dapat membantu penyelenggara mengevaluasi jumlah pertandingan, waktu mulai, serta cadangan waktu yang tersedia. Pendekatan ini berpotensi melengkapi pedoman keselamatan yang sudah ada agar keputusan penjadwalan tidak hanya berfokus pada apakah suatu kondisi melewati ambang panas, tetapi juga apakah seluruh pertandingan dapat diselesaikan dengan aman.