Bupati Daeng Manye Gagas Festival Pesantren Se-Kabupaten Takalar, Terinspirasi dari Panggung Gembira Nurul Asafa
TAKALAR — Sebuah gagasan besar lahir dari sebuah pertunjukan. Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, begitu terkesan dengan kreativitas santri dalam acara Panggung Gembira di Pondok Pesantren Nurul Asafa beberapa waktu lalu. Kegiatan itu membuka matanya: para santri memiliki potensi luar biasa yang layak ditampilkan ke publik.
Maka, lahirlah ide Festival Pondok Pesantren, sebuah ajang yang akan melibatkan seluruh pesantren di Takalar, sebanyak 24 pondok dan direncanakan digelar bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.
"Saya langsung terinspirasi setelah sampai di sana untuk mengadakan Festival Pondok Pesantren," ujar Daeng Manye.
Bupati Takalar, Daeng Manye Tiba di Acara Panggung Gembira di Pondok Pesantren Nurul Asafa.
Dari Pesantren untuk Pesantren
Festival ini dirancang bukan sekadar perlombaan. Ia adalah ruang syiar, kreativitas, dan kebanggaan. Pemerintah Kabupaten Takalar hadir sebagai fasilitator, sementara pelaksanaannya diserahkan kepada pondok pesantren. Untuk perdana ini, Pondok Pesantren Nurul Asafa akan bertindak sebagai penyelenggara, dan ke depan akan bergilir di antara pondok-pondok lainnya.
"Ini dari pondok untuk pondok, difasilitasi oleh pemerintah daerah," tegas Daeng Manye.
Panggung Kreativitas Tanpa Batas
Festival ini menawarkan berbagai kategori lomba, mulai dari kasidah, nasyid, paduan suara, drama kolosal, tari-tarian, stand-up comedy, cerita kepahlawanan, hingga pidato bahasa Arab dan Inggris. Setiap pesantren dapat memilih tiga kategori sesuai potensi masing-masing.
Tak hanya itu, penonton pun dilibatkan dalam penilaian melalui sistem voting, menjadikan festival lebih interaktif dan meriah.
Bupati Daeng Manye, Pengurus Pondok dan Jajaran Forkopimda Kabupaten Takalar. (Foto Bersama)
Sentuhan Budaya Lokal untuk Generasi Digital
Kepala Dinas Pendidikan Takalar, Dody Riyan Saputra, mengusulkan agar festival juga mengangkat budaya lokal Sulawesi Selatan. "Kalau bisa yang berbau-bau budaya adat Sulawesi Selatan ataupun adat kita di Takalar," katanya.
Dengan begitu, festival memiliki dua misi sekaligus: memperkuat syiar Islam dan menjaga keberlanjutan budaya daerah di tengah gempuran era digital.
Bupati Daeng Manye, Pengurus Pondok, Panitia Pelaksana Panggung Gembira 627, Ustad/Ustadza Pengajar, Jajaran Forkopimda Kabupaten Takalar dan Semua Santri/Santiwati Panggung Gembira 627 Pondok Modern Nurul Asafa. (Foto Bersama)
Tiga Hari Penuh Syiar dan Kreativitas
Festival akan digelar selama tiga hari, 22–24 Oktober 2026, dengan sekitar delapan pondok tampil setiap hari. Lokasi sementara direncanakan di halaman Kantor Bupati Takalar, yang dinilai mampu menampung ribuan pengunjung.
Selain panggung pertunjukan, akan ada pameran booth dari setiap pondok untuk memperkenalkan program unggulan dan produk mereka.
Bupati Daeng Manye Bersama Pimpinan Pondok Modern Nurul Asafa Al-Ustad Zakriadi,S.Pd.I.
Harapan: Lebih Baik Setiap Tahun
Daeng Manye optimis persiapan selama satu setengah bulan masih cukup jika semua pihak bergerak cepat. "Saya yakin yang kedua kali lebih baik, lebih baik, dan lebih baik," ujarnya.
Festival ini bukan hanya tentang mencari juara. Ini adalah panggung bagi santri Takalar untuk tampil, berkreasi, dan menemukan jati diri. Dari pesantren, untuk Takalar, dan untuk Indonesia.