Cegah Penularan TBC Lewat Perbaikan Gizi? Indonesia Mulai Uji Klinik Besar
JAKARTA, SULSEL.TODAY — Upaya pencegahan tuberkulosis (TBC) di Indonesia mulai dikembangkan melalui penelitian yang menguji peran dukungan gizi bagi orang yang tinggal serumah dengan pasien. Kementerian Kesehatan RI bersama Universitas Indonesia (UI) resmi memulai uji klinik PHOTON pada 22 Oktober 2026 di Jakarta.
PHOTON merupakan singkatan dari Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah intervensi gizi dapat menjadi strategi pelengkap dalam upaya mengurangi risiko TBC pada anggota keluarga yang tinggal bersama pasien.
Kemenkes menyebut Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi. Pada 2024, sekitar satu juta orang di Indonesia diperkirakan jatuh sakit akibat penyakit tersebut, dengan angka kematian mencapai 136.000 jiwa.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa pengendalian TBC membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Selain penanganan medis, kondisi gizi juga menjadi salah satu aspek yang perlu diteliti untuk mendukung upaya pencegahan penyakit.
Libatkan puluhan ribu peserta
Penelitian PHOTON melibatkan total 78.400 peserta di Indonesia dan Tanzania. Di Indonesia, sebanyak 42.260 peserta direkrut dari wilayah Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok. Peserta merupakan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
Penelitian menggunakan metode Randomized Controlled Trial (RCT), yaitu metode uji klinik dengan pembagian peserta secara acak ke dalam kelompok intervensi. Peserta di Indonesia dibagi menjadi empat kelompok, yakni kelompok plasebo, kelompok vitamin D, kelompok kombinasi multimikronutrien, serta kelompok yang menerima dukungan energi dan protein seimbang.
Intervensi dukungan energi dan protein seimbang direncanakan berlangsung selama enam bulan. Sementara itu, manfaat dari berbagai intervensi akan dipantau selama 24 bulan untuk menilai hasilnya.
Belum menjadi pengganti pengobatan TBC
PHOTON masih merupakan penelitian untuk menguji efektivitas pendekatan gizi. Karena itu, hasilnya belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa konsumsi vitamin atau suplemen tertentu secara mandiri mampu mencegah TBC.
Dukungan gizi dalam penelitian ini ditempatkan sebagai pendekatan pelengkap, bukan pengganti pemeriksaan medis, pengobatan pasien, atau langkah pencegahan TBC yang dianjurkan tenaga kesehatan.
Bagi masyarakat yang tinggal bersama pasien TBC, pemeriksaan dan konsultasi dengan fasilitas kesehatan tetap penting untuk menilai risiko penularan serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau terapi pencegahan.
Melalui penelitian ini, para peneliti diharapkan memperoleh bukti ilmiah yang dapat membantu pengembangan strategi pengendalian TBC. Hasil pemantauan peserta dalam jangka panjang akan menjadi bagian penting untuk menilai apakah intervensi gizi dapat memberikan manfaat tambahan dalam pencegahan penyakit tersebut.