Djarum Ambil Alih Narasi: Ketika Konglomerasi Melirik Media Bukan Sekadar Iklan, Tapi Aset Strategis

Ilustrasi Bisnis Media.

JAKARTA — Grup Djarum kembali memperluas sayapnya di industri media. Kali ini, mereka disebut mengambil alih Narasi, media digital yang didirikan oleh Najwa Shihab dan kawan-kawan. Langkah ini menjadi sorotan di tengah badai yang menerpa bisnis media digital Indonesia, sebuah sektor yang tengah berjuang menghadapi tekanan algoritma, fragmentasi audiens, dan monetisasi yang kian sulit.

Diketahui, bisnis media Indonesia sedang berada dalam fase yang tidak mudah. Model bisnis yang bertumpu pada iklan digital harus bersaing dengan platform global, sementara biaya produksi konten berkualitas tetap tinggi. Banyak perusahaan media terpaksa melakukan efisiensi, mengurangi karyawan, bahkan menghentikan operasional.

Di tengah situasi tersebut, Grup Djarum justru melangkah berbeda. Keluarga Hartono melalui lengan investasinya, PT Global Digital International (GDI) , mengambil alih PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang menaungi Narasi.

Pengambilalihan tersebut telah mendapatkan persetujuan seluruh pemegang saham dan diberitahukan kepada Menteri Hukum pada 2 September 2026. Nilai transaksi dan jumlah saham yang dialihkan belum diumumkan ke publik.

Narasi didirikan pada 2018 oleh Dahlia Citra, Najwa Shihab, dan Catharina Davy. Perusahaan itu terdaftar dan diverifikasi Dewan Pers pada November 2019.

Jejak Panjang Djarum di Media Digital

Akuisisi ini bukanlah langkah pertama Djarum di dunia media. Sebelumnya, GDI melalui GDP Venture telah menjadi investor di sejumlah perusahaan media dan platform digital. Pada 2024, GDP Venture meningkatkan kepemilikannya di PT Dynamo Media Network (penerbit Kumparan) hingga 82 persen dan menjadi pemegang saham pengendali.

Bos GDP Venture, Martin Hartono.

Dengan masuknya Narasi ke bawah kendali yang sama, portofolio media digital Grup Djarum kembali bertambah. Dalam berbagai catatan publik, portofolio media dan hiburan GDP Venture pernah mencakup nama seperti Kaskus, IDN Media, Kumparan, Kurio, Lokadata, DailySocial, Historia, Kincir, Bolalob, WomenTalk, dan sejumlah perusahaan konten lainnya.

Dokumen prospektus PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) mencatat GDP Venture merupakan investor yang berfokus pada bisnis digital dengan investasi di lebih dari 20 perusahaan media digital, e-commerce, dan penyedia solusi.

Mengapa Konglomerasi Masih Membeli Media?

Nilai sebuah perusahaan media tidak seluruhnya tercermin dari pendapatan iklan. Media memiliki sesuatu yang semakin mahal dalam ekonomi digital: perhatian manusia.

Perusahaan yang mampu membangun komunitas pembaca, penonton, atau pendengar secara konsisten pada dasarnya memiliki akses terhadap jaringan audiens yang dapat digunakan untuk berbagai model bisnis dari iklan, acara, subscription, commerce, licensing, hingga pengembangan produk digital.

Dalam konteks tersebut, media dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem yang lebih besar. Ada beberapa pertimbangan utama:

  1. Audiens — Membangun audiens dari nol butuh waktu bertahun-tahun. Akuisisi memungkinkan korporasi memperoleh akses terhadap basis pengguna, merek, komunitas, dan kanal distribusi yang sudah terbentuk.
  2. Konten dan Intellectual Property (IP) — Konten yang kuat dapat digunakan berulang kali di berbagai platform.
  3. Data dan pemahaman perilaku konsumen — Kepemilikan first-party data dan kemampuan mengukur audiens menjadi penggerak penting valuasi dalam transaksi media.
  4. Distribusi — Kemampuan membangun hubungan langsung dengan audiens menjadi aset di tengah fragmentasi pasar.

Aset Media Makin Berharga di Tengah Tekanan

McKinsey mencatat aktivitas M&A media global tetap kuat meskipun industri menghadapi ketidakpastian. Nilai transaksi media pada 2025 mencapai sekitar **US$360 miliar**, sementara rata-rata nilai transaksi meningkat dari sekitar US$620 juta (2024) menjadi sekitar US$1,8 miliar (2025).

AlixPartners bahkan memperkirakan nilai M&A media pada 2026 dapat menembus US$80 miliar. Artinya, kesulitan bisnis media tidak otomatis membuat media kehilangan nilai sebagai aset korporasi.

Apa yang Dicari Djarum?

Belum ada pernyataan resmi dari Grup Djarum mengenai alasan strategis pengambilalihan Narasi. Namun, pola investasi yang sudah berlangsung memberikan petunjuk.

Djarum memiliki ekosistem bisnis yang sangat luas dari rokok, perbankan melalui Grup BCA, elektronik melalui Polytron, hingga bisnis digital dan teknologi melalui GDP Venture. Dalam ekosistem seperti itu, media dapat memiliki fungsi yang lebih luas dibanding sekadar menghasilkan laba dari iklan.

Narasi memiliki kekuatan pada konten jurnalistik, video, tokoh, komunitas, dan distribusi digital. Kumparan memiliki model berbeda dengan basis platform dan jaringan konten yang luas. Keduanya dapat memberikan akses kepada segmen audiens yang berbeda.

Media Sebagai Aset Strategis Konglomerasi

Dari perspektif bisnis, masuknya konglomerasi ke media memperlihatkan perubahan cara memandang industri ini. Pada era media cetak dan televisi, nilai utama perusahaan media banyak ditentukan oleh sirkulasi, rating, dan pendapatan iklan. Dalam ekonomi digital, ukuran tersebut semakin dilengkapi oleh engagement, komunitas, data, IP, creator network, dan kemampuan distribusi lintas platform.

Itulah sebabnya perusahaan media yang secara bisnis terlihat tertekan masih dapat menarik investor. Nilainya tidak selalu berada pada laba tahun berjalan, tetapi pada apa yang telah dibangun selama bertahun-tahun: kepercayaan audiens, merek, jaringan kreator, perpustakaan konten, teknologi distribusi, dan kemampuan mengubah perhatian menjadi transaksi ekonomi.

Bagi konglomerasi dengan modal besar dan portofolio lintas industri, aset semacam itu dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar