Eropa Selatan Terbakar: Ribuan Orang Dievakuasi, Madrid Alami Kebakaran Hutan Terburuk Sepanjang Sejarah

Madrid Alami Kebakaran Hutan Terburuk Sepanjang Sejarah.

MADRID – Eropa selatan sedang berjuang melawan amukan api di tengah gelombang panas paling ekstrem yang pernah tercatat. Puluhan ribu orang terpaksa dievakuasi dari resor-resor pantai di Prancis barat daya, sementara ibu kota Spanyol, Madrid, dilanda kebakaran hutan terburuk dalam sejarahnya.

Di Prancis, suasana mencekam menyelimuti Semenanjung Cap Ferret. Kabut oranye tebal telah menggantung di kawasan itu sejak Rabu, ketika api yang berkobar di pedalaman dekat Saumos mulai merambat ke barat menuju pantai Atlantik. Pihak berwenang pun mengambil langkah drastis dengan memerintahkan evakuasi total pada Jumat (24/7/2026), memaksa sekitar 40.000 penduduk dan wisatawan meninggalkan resor populer tersebut.

Ribuan orang sudah mulai mengungsi sejak Kamis, dan pada Jumat pagi, perahu-perahu dikerahkan untuk mengangkut ratusan wisatawan yang tersisa dari semenanjung. Pasalnya, api terus mendekati satu-satunya jalan darat yang menghubungkan Cap Ferret ke daratan utama.

Sekitar 800 petugas pemadam kebakaran, didukung oleh pesawat pengebom air dari Komisi Eropa, dikerahkan untuk menjinakkan api. Namun, hingga Jumat sore, lebih dari 12.500 hektar hutan telah hangus terbakar. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengungkapkan bahwa total ada 32 kebakaran hutan dengan berbagai ukuran di seluruh Prancis pada hari yang sama.

Tak jauh dari Cap Ferret, sekitar 45 kilometer ke selatan, kebakaran juga mendekati kota pantai Biscarrosse, memaksa evakuasi 23.000 orang lainnya. Meskipun suhu di wilayah tersebut mulai turun dari rekor 42,9°C di Biarritz menjadi 28°C di Biscarosse, gelombang panas selama enam minggu terakhir telah membuat hutan-hutan di kawasan itu sangat kering dan mudah terbakar.

Sepanjang tahun ini, Nunez mencatat bahwa 50.000 hektar lahan di Prancis telah terbakar hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di Spanyol tengah, situasi tak kalah genting. Suhu yang sempat menyentuh 44°C pada bulan lalu menyulut tiga kebakaran besar di dekat Madrid dan wilayah tetangga Avila. Ketiga api itu akhirnya bergabung menjadi satu, memaksa 19.000 orang mengungsi dan mendorong pemerintah Spanyol menyatakan keadaan darurat nasional.

"Ini adalah kebakaran terburuk dalam sejarah wilayah Madrid," ujar Presiden Wilayah Madrid, Isabel Diaz Ayuso, pada Jumat. Ia menyebut bencana ini sebagai "badai sempurna" akibat suhu ekstrem, angin kencang, dan beberapa front api yang bergabung.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, dengan tegas menyalahkan perubahan iklim atas bencana ini. "Saya telah mengatakannya berkali-kali darurat iklim membunuh. Kita melihatnya di seluruh Eropa, dan kita melihatnya di Spanyol," tegasnya. Ia pun menyerukan "pakta negara" untuk mengatasi perubahan iklim kepada para rival politiknya.

Namun, partai sayap kanan Vox menolak pernyataan tersebut. Dalam unggahan di media sosial, mereka mengklaim bahwa penyebab kebakaran bukanlah perubahan iklim, melainkan "kurangnya pembersihan hutan dan sarana untuk memerangi kebakaran."

Data dari program pengamatan Bumi Uni Eropa, Copernicus, mencatat bahwa Eropa Barat mengalami Juni terpanas dalam sejarah bulan lalu. Meteo-France juga menyebut gelombang panas akhir Juni sebagai yang paling hebat di Prancis, sementara Juni menjadi bulan terpanas kedua dalam sejarah Spanyol.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar