Mengenal Lebih Dekat 'Calabai': Film Animasi Peraih Penghargaan yang Angkat Kisah Budaya Bugis dan Komunitas Bissu
Film animasi pendek berjudul Calabai karya sutradara muda Gina Korompot berhasil menarik perhatian publik lewat penekatan visual dan penceritaannya yang mendalam. Diangkat dari novel berjudul sama karya Pepi Al-Bayqunie, film ini mengeksplorasi benturan maskulinitas, identitas, serta sejarah komunitas Bissu dalam kebudayaan Bugis.
Dalam sebuah sesi tanya jawab, Gina Korompot membagikan perjalanan kreatif, proses riset mendalam, serta tantangan dalam mengangkat isu sensitif ke dalam bentuk film animasi 2D.

Film Calabai mengisahkan perjalanan Saidi, seorang Bissu yang baru saja diangkat menjadi Puang Matoa atau pemimpin spiritual komunitas Bissu. Dalam kosmologi Bugis, Bissu kerap dianggap sebagai "gender kelima" yang melampaui batas biner laki-laki dan perempuan.
Namun, di tengah perayaan dan dukungan yang ia terima, Saidi merasakan kekosongan akibat bayang-bayang kenangan masa lalunya bersama sang ayah yang meninggalkan pertanyaan besar dalam hidupnya. Film ini menyoroti dinamika hubungan antara dua maskulinitas yang saling berkonflik, yaitu antara Saidi dan ayahnya.
Ketertarikan Gina pada budaya Bissu bermula dari tontonan dokumenter semasa SMP. Ia terkejut mengetahui bahwa kebudayaan yang selama ini dianggap konservatif ternyata memiliki pemahaman gender yang sangat kompleks. Proyek ini kemudian diperkuat melalui riset sejarah, termasuk masa-masa sulit yang dialami komunitas Bissu saat pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada periode 1950–1965, serta wawancara langsung dengan narasumber dari komunitas Bissu bernama Kak Anca.
Melalui Kak Anca, Gina memahami lebih dalam pengalaman hidup seorang Bissu dan Calabai. Salah satu elemen penting dalam film ini bahkan terinspirasi dari percakapan tersebut, yaitu konsep 'alam mimpi' yang dalam kosmologi Bugis sering menjadi media komunikasi antara manusia dan Dewata.
Mengangkat tema yang menyentuh isu homofobia, diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan massa tentu bukan keputusan yang mudah, terlebih proyek ini awalnya dikerjakan sebagai karya tugas akhir atau skripsi. Gina mengaku sempat merasa khawatir karena dirinya merupakan seorang perempuan heteroseksual yang mengangkat narasi kelompok queer Oleh karena itu, ia memilih pendekatan yang penuh kehati-hatian serta berfokus pada inti emosional yang universal, yakni hubungan antara orang tua dan anak serta pencarian ketulusan batin.

Berlatar belakang pendidikan di bidang ilustrasi dan desain grafis, Gina berhasil mewujudkan impian masa kecilnya dalam bercerita melalui medium visual bergerak. Saat ini, Gina tengah sibuk mengembangkan proyek animasi keduanya dan bersemangat untuk terus berkarya di industri film animasi Indonesia.